Blogroll




Kamis, 13 Januari 2011

Berbicara tentang "Tari"

         Sampai saat ini, tari masih saja diperlakukan sebagai seorang perawan, seorang dara manis yang dibesarkan di atas pentas dan di dalam tembok istana, yang selalu dianjurkan tetap menjaga keremajaannya: ayu, rapi dan sopan (Doris Humphrey:1983). Singkatnya dapat dikatakan bahwa tari adalah sarana hiburan bagi raja-raja. Manusia telah mencipta tari sepanjang masa, sejak zaman prasejarah sampai masa kini. Akan tetapi barulah pada tahun 1930-an teori-teori komposisi tari berkembang dan diajarkan. Sebelumnya, semua tarian dikomposisikan secara instingtif, atau dengan bakat alami dari para penarinya. Tari telah lama menjadi pertunjukan yang luar biasa bagusnya tanpa teori, dan mewujud hanya karena jasa dan usaha-usaha perorangan yang berbakat, yang sampai saat ini tidak mempunyai kerangka kerja, pedoman dasar seperti "counterpoint" dan harmoni dalam musik atau hukum perspektif dan proporsi dalam seni lukis.
         Di dalam tari, gerak adalah esensi. Gerak merupakan kunci dan bahasanya. Akan tetapi tidaklah benar jika dikatakan bahwa seorang penari adalah seorang "un-intelektual", yang hanya berpikir dengan otot-ototnya. Sebab tari membutuhkan analisa dan konseptualitas yang tinggi dalam berbagai perannya.

Sabtu, 08 Januari 2011

Upacara Kematian dalam Tradisi Jawa (Part-1)

Pendahuluan
Seberapapun kecilnya peradaban disuatu daerah, tentu saja masih memiliki kebiasaan yang selalu dilakukan. Kebiasaan itu rutin dilaksanakan dan menurun hingga generasi berikutnya. Itulah yang disebut dengan kebudayaan. Semakin luas wilayah peradaban maka rutinitas maupun kebudayaan yang dihasilkan tentu akan semakin beragam. Seperti halnya di Indonesia. Kita sadari sebagai warga negara Indonesia, kita mengenal berbagai macam dan ragam bentuk kebudayaan yang sampai saat ini masih terus berkembang dan dilestarikan. Bahkan keyakinan animisme-dinamisme peninggalan zaman prasejarah juga masih banyak ditemui dalam adat dan tradisi tertentu. Dapat kita bedakan adanya berbagai tindakan keagamaan dalam sistem sosial Agami Jawi. Sumber dari sebutan Agami Jawi adalah adanya kebudayaan animisme-dinamisme yang tetap diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa. Meskipun pada dasarnya mereka merupakan pemeluk agama lainnya, seperti Islam dan lainnya.